Kumpulan_Mutiara

Tuesday, November 15, 2005

SUATU SORE DI UJUNG MASJID

Rasanya tak perlu dicari lagi, makna pertemuan yang hidupkan ikan pada suatu sisi laut sudahlah jelas. Bila matahari senja nampak lebih kuning, wajar sejatinya kerinduan muncul dari balik rimbun dedahan, menepuki dada yang tak lapang mengikuti jalan tanpa nama di ujung jari telunjuk hijaunya.

Bahkan hingga detik ketika tetembang sebelas bintang dan matahari dilantunkan, mungkin hanya desir angin senja yang tersisa, melagukan syairnya yang tiada katapun merangkum arti bukan seorang pendendam.

Lalu ini kali kembali bangkit, menghitungi sepasukan tentara semut berteriak di kejauhan telinga Sulaiman a.s. dengan satu komando, mencari jalan memutar; adakah telinga lain yang mendengar teriak itu?

Rasanya senja makin malas, memberi pantulan cahyanya di atas marmer. Dan sayup lagu itu perlahan hilang, ditindih waktu yang terus saja beputar, lalu ini kali sang Raja melantunkan syair-syairnya; Aku berucap syukur pada-Mu.

---------------------
*) Ibnu Purwanto B. N.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home